Akhir untuk awal yang baru (Kelulusan SMA)

Hari ini pengumunan hasil ujian nasional tahun 2017, tepat di hari pendidikan nasional. Melihat postingan anak sma yang coret-coret baju di medsos jadi teringat ketika pengumuman kelulusan SMA tahun 2013.
Waktu itu merupakan hari paling emosional ketika SMA setelah hari perpisahan sekolah. Dari pagi hampir semuanya harap-harap cemas dengan hasil ujian. Ada yang yakin lulus, ada yang setengah-setengah, ada juga yang entah. Tapi entah juga kenapa hampir semuanya mampu menyembunyikan kegundahan di dalam hatinya. Semuanya serempak yakin bahwa semuanya akan lulus. Keyakinan itulah yang membuat kami larut dalam euphoria kelulusan.
Ada yang sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari, ada juga yang sekedar ikut ikutan saja. Aku temasuk golongan yang kedua. Entah sejak kapan corat-coret seragam menjadi tradisi ketika kelulusan. Awalnya aku tidak setuju dengan kegiatan itu, karena aku belum juga mengerti apa esensi dari coret coret seragam. Aku hanya ikut-ikutan, toh seragam yang aku coret-coret juga memang seragam yang sudah tidak layak pakai lagi. Memang pada waktu itu seragam yang kami kenakan bukanlah seragam sekolah yang biasa kami pakai, kami semua sudah menyepakati bahwa seragam yang dicoret-coret merupakan seragam yang sudah tidak layak pakai dan seragam yang masih layak kami sumbangkan ke panti asuhan. Anak-anak osis dan rohis sudah mengatur itu semua.
Meskipun kami coret coret seragam dan di anggap sebagai aksi fundalisme kaum tidak terpelajar, kami tidak peduli. Setidaknya meskipun kami di anggap bodoh kami tidak sepenuhnya bodoh seperti yang mereka kira. Kami tetap tau batasan diri, yang kami coret adalah apa yang melekat di badan kami, bukan pagar, tembok, atau rambu lalulintas.
Pengumumanpun dibacakaan.
Kami semua lulus, aura kegembiraan sontak pecah. Kami luapkan ekspresi kegembiraan kami di baju kami dan teman kami. Hanya sekedar tanda tangan atau coretan pengingat bahwa kami pernah bersekolah bersama. Kami disibukkan mencari seragam mana yang masih bersih kemudian kami coret, mencari orang yang paling ingin dikenang, orang yang disukai bahkan yang dibenci. Semua larut dalam satu euphoria, semua bahagia meski entah diantara kami pernah ada yang saling membenci. Tapi setelah kegembiraan itu memuncak,  kemudian berubah menjadi suasana haru. Menyadari bahwa kita akan susah untuk bertemu lagi, kami tumpahkan airmata kami bersama. Entah kalian akan kuliah di Jogja, Semarang, Bandung, atau kota manapun, silahkan pergi. Setelah ini kami akan disibukkan dengan urusan masing-masing sehingga takkan sempat untuk mengenang saat-saat seperti ini.


Hari ini (4 tahun setelah itu) aku baru menyadari ternyata salah satu esensi dari coret-coret adalah membuat “prasasti” yang akan kami kenang mungkin untuk seumur hidup kami. Karena setelah 4 tahun berlalu ternyata menemukan meeka yang telah mencoret seragamku itu tidak mudah. Yang dulu tiap hari ketemu tanpa perlu dicari sekarang harus dicari-cari dulu baru ketemu. 

Salam dari temanmu yang merindukanmu

Share this

Related Posts

First