Sweet disposition, never too soon.
Hei kawan, selalu akan ada kisah baru ketika kau berani mengakhiri petualanganmu. Tak semestinya petualangan berakhir, tapi ketika sudah tak patut diteruskan kenapa tidak di akhiri?. Terdengar kejam memang, mengakhiri sesuatu yang sebenarnya kita mulai sendiri. Tak ada yang mudah untuk akhir suatu kisah, pasti ada pengorbanan yang menyakitkan. Entah, Aku tak mudah untuk menerima, tak mudah juga untuk melepaskan. Tapi ketika aku mendengar cerita dari ibuku tentang bagaimana rasanya melahirkanku. Aku mendengar wujud konkrit dari apa yang di sebut akhir untuk awal yang baru.
Pernah aku bertanya kepada ibuku. "Bu, jika melahirkanku butuh perjuangan seberat itu, harus menahan sakit yang aku tak tau rasanya, kenapa ibu tak takut untuk melahirkan lagi?". Kemudian ibuku mengelus kepalaku, dan mengelus perutnya yang berisi adikku, dia menarik nafas panjang. Yang ku tahu ketika seseorang menarik nafas panjang berarti pertanda apa yang dikatakannya adalah sesuatu yang tak mudah dikatakan olehnya. Mungkin suatu keputusan atau sesuatu yang tidak akan dimengerti oleh seorang anak berumur 4 tahun. Kemudian ibuku menatapku dalam dan berkata "Kamu masih terlalu kecil nak untuk tau masalah ini, yang jelas ibu bahagia sudah melahirkanmu". Ibuku terus mengelus kepalaku, aku melihat matanya berkaca-kaca setelah dia berbicara, kemudian dia memelukku, dan gemas dengan tingkahku.
Waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti maksud dari perkataan ibuku, aku mendengarkan perkataannya sama seperti ketika dia memintaku untuk tidak nakal di sekolah. Tapi di kemudian hari, aku menemukan catatan diary milik ibuku yang membuat hatiku bergetar.
"Hari ini anak pertamaku bertanya kepadaku, 'Jika ibu merasa sakit saat melahirkan, kenapa ibu mau melahirkan lagi?'. Ingin ku ceritakan kepadanya kenapa ibu tak takut melahirkan lagi. Tapi dia masih kecil, belum genap 5 tahun. Seandainya ketika sudah cukup besar nanti dia menanyakan hal yang sama aku ingin menjawab sejujurnya. 'Nak, meski pada saat akan melahirkanmu ibu sangat tersiksa, 2 hari tak bisa tidur, menahan sakit yang tak bisa ibu jelaskan, rasanya ibu ingin menyerah. Tapi membayangkanmu ibu akan mendengar suara tangismu ketika lahir nanti, ibu semakin kuat untuk berjuang. dan ketika ibu benar benar mendengarmu menangis dan mendekapmu memberikan air susu pertamamu, rasa sakit itu tak sebanding dengan betapa bahagianya ibu melahirkanmu dan melihatmu tumbuh menggemaskan seperti itu'. semoga nanti kau membacanya anak-anaku".
Oh ibu, kenapa engkau mau mengorbankan pengorbanan seperti itu kepadaku. Padahal engkau juga tak tau apakah aku akan menjadi kebangganmu atau justru mengecewakanmu. Aku yakin aku takkan menemukan seorangpun di dunia ini yang mau berkorban seperti itu untukku.
Jika aku pulang nanti, aku ingin mengenalkanmu pada seorang wanita yang kelak akan menjadi partner hidupku, membangun peradaban, membangun masadepan seperti yang telah kau lakukan. Aku ingin engkau mengenalnya, ingin engkau juga menerimanya seperti anakmu, aku juga ingin dia menerimamu seperti ibunya. aku ingin engkau memberikan petuah kehidupan kepada kami yang ingin memulai fase kehidupan yang baru, biar bagaimanapun kami tetaplah anakmu.
Hei kawan, selalu akan ada kisah baru ketika kau berani mengakhiri petualanganmu. Tak semestinya petualangan berakhir, tapi ketika sudah tak patut diteruskan kenapa tidak di akhiri?. Terdengar kejam memang, mengakhiri sesuatu yang sebenarnya kita mulai sendiri. Tak ada yang mudah untuk akhir suatu kisah, pasti ada pengorbanan yang menyakitkan. Entah, Aku tak mudah untuk menerima, tak mudah juga untuk melepaskan. Tapi ketika aku mendengar cerita dari ibuku tentang bagaimana rasanya melahirkanku. Aku mendengar wujud konkrit dari apa yang di sebut akhir untuk awal yang baru.
Pernah aku bertanya kepada ibuku. "Bu, jika melahirkanku butuh perjuangan seberat itu, harus menahan sakit yang aku tak tau rasanya, kenapa ibu tak takut untuk melahirkan lagi?". Kemudian ibuku mengelus kepalaku, dan mengelus perutnya yang berisi adikku, dia menarik nafas panjang. Yang ku tahu ketika seseorang menarik nafas panjang berarti pertanda apa yang dikatakannya adalah sesuatu yang tak mudah dikatakan olehnya. Mungkin suatu keputusan atau sesuatu yang tidak akan dimengerti oleh seorang anak berumur 4 tahun. Kemudian ibuku menatapku dalam dan berkata "Kamu masih terlalu kecil nak untuk tau masalah ini, yang jelas ibu bahagia sudah melahirkanmu". Ibuku terus mengelus kepalaku, aku melihat matanya berkaca-kaca setelah dia berbicara, kemudian dia memelukku, dan gemas dengan tingkahku.
Waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti maksud dari perkataan ibuku, aku mendengarkan perkataannya sama seperti ketika dia memintaku untuk tidak nakal di sekolah. Tapi di kemudian hari, aku menemukan catatan diary milik ibuku yang membuat hatiku bergetar.
"Hari ini anak pertamaku bertanya kepadaku, 'Jika ibu merasa sakit saat melahirkan, kenapa ibu mau melahirkan lagi?'. Ingin ku ceritakan kepadanya kenapa ibu tak takut melahirkan lagi. Tapi dia masih kecil, belum genap 5 tahun. Seandainya ketika sudah cukup besar nanti dia menanyakan hal yang sama aku ingin menjawab sejujurnya. 'Nak, meski pada saat akan melahirkanmu ibu sangat tersiksa, 2 hari tak bisa tidur, menahan sakit yang tak bisa ibu jelaskan, rasanya ibu ingin menyerah. Tapi membayangkanmu ibu akan mendengar suara tangismu ketika lahir nanti, ibu semakin kuat untuk berjuang. dan ketika ibu benar benar mendengarmu menangis dan mendekapmu memberikan air susu pertamamu, rasa sakit itu tak sebanding dengan betapa bahagianya ibu melahirkanmu dan melihatmu tumbuh menggemaskan seperti itu'. semoga nanti kau membacanya anak-anaku".
Oh ibu, kenapa engkau mau mengorbankan pengorbanan seperti itu kepadaku. Padahal engkau juga tak tau apakah aku akan menjadi kebangganmu atau justru mengecewakanmu. Aku yakin aku takkan menemukan seorangpun di dunia ini yang mau berkorban seperti itu untukku.
Jika aku pulang nanti, aku ingin mengenalkanmu pada seorang wanita yang kelak akan menjadi partner hidupku, membangun peradaban, membangun masadepan seperti yang telah kau lakukan. Aku ingin engkau mengenalnya, ingin engkau juga menerimanya seperti anakmu, aku juga ingin dia menerimamu seperti ibunya. aku ingin engkau memberikan petuah kehidupan kepada kami yang ingin memulai fase kehidupan yang baru, biar bagaimanapun kami tetaplah anakmu.


