Balada semester tua

Balada semester tua

"Semester pasti menua, wisuda duluan itu pilihan".

Kata sok bijaksana dari mahasiswa semester tua yang masih entah kapan wisudanya.

Semakin tua semesternya semakin berat beban pikirannya, meski sebenarnya beban pikiran itu takkan terasa berat kalau tidak dipikir. Tapi meski udah sok nggak mikir, tetap saja bakalan kepikiran. Contoh sederhana yang diambil dari instagram atau medsos lainnya.
Awalnya cuma iseng iseng buka medsos terus nemu hal semacam "Foto teman seangkatan wisuda".
"Foto mantan yang nikah sama mantannya". Mendadak muncul beban mental sendiri, kenapa dia bisa seperti itu sedangkan aku tidak?, kenapa dia bisa wisuda duluan? Atau nikah duluan?.
Cepet atau lambatnya wisuda sebenarnya tidak sepenuhnya tergantung pada rajin atau malasnya seseorang. Ada banyak faktor, salah satunya faktor dosen pembimbing.

Di kampusku, mahasiswa tidak bisa menentukan siapa dosen pembimbingnya, semua tergantung takdir dan keberuntungan. Aku termasuk orang yang tidak beruntung diantara sekian ribu mahasiswa di kampusku.

Dosen yang katanya ditugaskan untuk membimbingku ternyata dosen yang paling ku hindari. Beberapa pertemuan dengannya, aku sudah punya kesan yang kurang baik.
1. Aku bingung, dia manusia atau robot. Berkata dan berpenampilan layaknya seorang profesional membuatnya dikuasai logika dan mematikan hatinya. Apakah modernisasi juga membuat manusia jadi robot.

2. Dia seperti Virus. Kalau kamu pernah nonton film 3 Idiots, sosok virus yang ada di film sama seperti si bapak dosen. Hidupnya penuh ambisi, selalu merasa kurang, tak mau tersaingi, merasa benar sendiri, kurang bisa memanusiakan manusia. Karena sifatnya itu mahasiswa bimbingannya jadi bunuh diri.

Jika dia benar benar virus, aku hanya berharap aku bisa bertahan hidup menghadapi perkataannya yang lebih berbahaya dari asap rokok. Setidaknya aku harus bisa survive sampai selesai kuliahku. Setelah itu aku takkan lagi punya rencana untuk bertemu dengannya, kecuali tanpa sengaja.

3. Robot yang terkena virus. Sebenarnya aku tak peduli dia mau jadi robot atau manusia, yang penting dia konsisten. Tapi sayangnya dia gagal konsisten dengan dirinya sendiri, dengan perkataannya. Ketika mahasiswanya telat 10 menit, dia disuruh pulang dan aturan itu juga berlaku buat bapak dosen. Tapi ketika bapak dosen telat 3 jam mahasiswa harus setia menantinya. Sejak itu aku merasa dia bukan robot tapi bukan juga manusia.

Sepertinya bapak selalu sempurna dalam hidupnya, tak kurang apapun. Makanya bapak kurang tau bagaimana rasanya dibawah, terinjak, tersingkirkan dan terlupakan. Kami mahasiswa mu, terinjak oleh badan besarmu, tersingkirkan oleh perut besarmu, dan kini terlupakan dari tugasmu yang harusnya engkau bimbing.

Akhirnya aku menemukanmu

Akhirnya aku menemukanmu

Sepertinya pencarianku tentang Dinda akan segera berakhir. Orang asing itu perlahan mulai memperkenalkan dirinya. Sosok yang awalnya hanya ada di dalam imajinasiku ternyata memang ada. Lewat pertemuan tak sengaja semua bermula.

Hey, sosok yang baru ku kenal namun kuyakini sebagai Dinda yang telah lama kucari. Sejauh ini kita hanya bertemu satukali. Bertemu tanpa sengaja, mengagumimu tanpa kau minta, dan kini aku mencintaimu tanpa terpaksa.

Mencintaimu pada pandangan pertama? Ku rasa tidak. Aku tak percaya pada cinta pada pandangan pertama. Melihat ke arahmu pada waktu itu saja aku malu. Tapi kenapa hatiku begitu yakin bahwa sosok Dinda adalah dirimu?

Pada waktu itu, buku yang sedang kubaca adalah Three cups of tea. Buku yang bercerita tentang kegagalan Mortenson dalam pendakian K2 yang merubah hidupnya. Pada kisah pertemuannya dengan Tara, spertinya mirip dengan kisah kita. Aku hanya berharap kisah selanjutnya sama dengan kisah mereka.

Kamu, wanita bermata sejuk. Sejujurnya ketika pertemuanku denganmu, aku sedang berada dalam kondisi terburukku. Aku mulai tak peduli dengan Dinda. Telah kupasrahkan dia pada waktu yang kan membawanya kepadaku. Hatiku telah di curi oleh wanita bermata sayu, dibawa pergi. Namun kemudian kemudian hari kutau yang ditangannya bukanlah hatiku. Entah hati siapa yang dia genggam.

Wanita bermata sayu itu seperti SenJayi dalam novel You are the apple of my eye dan aku sebagai Kojiteng. Meskipun pada akhir cerita Kojiteng hanya bisa menahan air mata ketika Senjayi menjadi ratu dan dia bukan rajanya.

Meskipun di adopsi dari kisah nyata, novel hanyalah kisah fiksi dalam imajinasi. Tapi cinta bukan fiksi kan? Wahai wanita bermata sejuk, terimakasih sudah membawa hatiku kembali, tapi aku ingin kamu menyimpannya.

Aku heran kenapa kita bisa sama sama yakin akan melangkah ke jalan yang tak untuk main main. Dari pertemuan itu aku tak mendapat kesan apapun, tapi aku bisa se yakin ini. Kamu kah jawaban dari doaku?.  Meski kita masih sebatas kau dan aku. Di atas sajadahmu dan sajadahku kita menghadap tuhan yang sama. Kuharap bukan hanya aku yang memanjatkan doa tentang masa tua indah kita.

Untukmu partner hidupku

Sweet disposition, never too soon.


Hei kawan, selalu akan ada kisah baru ketika kau berani mengakhiri petualanganmu. Tak semestinya petualangan berakhir, tapi ketika sudah tak patut diteruskan kenapa tidak di akhiri?. Terdengar kejam memang, mengakhiri sesuatu yang sebenarnya kita mulai sendiri. Tak ada yang mudah untuk akhir suatu kisah, pasti ada pengorbanan yang menyakitkan. Entah, Aku tak mudah untuk menerima, tak mudah juga untuk melepaskan. Tapi ketika aku mendengar cerita dari ibuku tentang bagaimana rasanya melahirkanku. Aku mendengar wujud konkrit dari apa yang di sebut akhir untuk awal yang baru.

Pernah aku bertanya kepada ibuku. "Bu, jika melahirkanku butuh perjuangan seberat itu, harus menahan sakit yang aku tak tau rasanya, kenapa ibu tak takut untuk melahirkan lagi?". Kemudian ibuku mengelus kepalaku, dan mengelus perutnya yang berisi adikku, dia menarik nafas panjang. Yang ku tahu ketika seseorang menarik nafas panjang berarti pertanda apa yang dikatakannya adalah sesuatu yang tak mudah dikatakan olehnya. Mungkin suatu keputusan atau sesuatu yang tidak akan dimengerti oleh seorang anak berumur 4 tahun. Kemudian ibuku menatapku dalam dan berkata "Kamu masih terlalu kecil nak untuk tau masalah ini, yang jelas ibu bahagia sudah melahirkanmu". Ibuku terus mengelus kepalaku, aku melihat matanya berkaca-kaca setelah dia berbicara, kemudian dia memelukku, dan gemas dengan tingkahku.

Waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti maksud dari perkataan ibuku, aku mendengarkan perkataannya sama seperti ketika dia memintaku untuk tidak nakal di sekolah. Tapi di kemudian hari, aku menemukan catatan diary milik ibuku yang membuat hatiku bergetar.

"Hari ini anak pertamaku bertanya kepadaku, 'Jika ibu merasa sakit saat melahirkan, kenapa ibu mau melahirkan lagi?'. Ingin ku ceritakan kepadanya kenapa ibu tak takut melahirkan lagi. Tapi dia masih kecil, belum genap 5 tahun. Seandainya ketika sudah cukup besar nanti dia menanyakan hal yang sama aku ingin menjawab sejujurnya. 'Nak, meski pada saat akan melahirkanmu ibu sangat tersiksa, 2 hari tak bisa tidur, menahan sakit yang tak bisa ibu jelaskan, rasanya ibu ingin menyerah. Tapi membayangkanmu ibu akan mendengar suara tangismu ketika lahir nanti, ibu semakin kuat untuk berjuang. dan ketika ibu benar benar mendengarmu menangis dan mendekapmu memberikan air susu pertamamu, rasa sakit itu tak sebanding dengan betapa bahagianya ibu melahirkanmu dan melihatmu tumbuh menggemaskan seperti itu'. semoga nanti kau membacanya anak-anaku".

Oh ibu, kenapa engkau mau mengorbankan pengorbanan seperti itu kepadaku. Padahal engkau juga tak tau apakah aku akan menjadi kebangganmu atau justru mengecewakanmu. Aku yakin aku takkan menemukan seorangpun di dunia ini yang mau berkorban seperti itu untukku.

Jika aku pulang nanti, aku ingin mengenalkanmu pada seorang wanita yang kelak akan menjadi partner hidupku, membangun peradaban, membangun masadepan seperti yang telah kau lakukan. Aku ingin engkau mengenalnya, ingin engkau juga menerimanya seperti anakmu, aku juga ingin dia menerimamu seperti ibunya. aku ingin engkau memberikan petuah kehidupan kepada kami yang ingin memulai fase kehidupan yang baru, biar bagaimanapun kami tetaplah anakmu.

Akhir untuk awal yang baru (Kelulusan SMA)

Hari ini pengumunan hasil ujian nasional tahun 2017, tepat di hari pendidikan nasional. Melihat postingan anak sma yang coret-coret baju di medsos jadi teringat ketika pengumuman kelulusan SMA tahun 2013.
Waktu itu merupakan hari paling emosional ketika SMA setelah hari perpisahan sekolah. Dari pagi hampir semuanya harap-harap cemas dengan hasil ujian. Ada yang yakin lulus, ada yang setengah-setengah, ada juga yang entah. Tapi entah juga kenapa hampir semuanya mampu menyembunyikan kegundahan di dalam hatinya. Semuanya serempak yakin bahwa semuanya akan lulus. Keyakinan itulah yang membuat kami larut dalam euphoria kelulusan.
Ada yang sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari, ada juga yang sekedar ikut ikutan saja. Aku temasuk golongan yang kedua. Entah sejak kapan corat-coret seragam menjadi tradisi ketika kelulusan. Awalnya aku tidak setuju dengan kegiatan itu, karena aku belum juga mengerti apa esensi dari coret coret seragam. Aku hanya ikut-ikutan, toh seragam yang aku coret-coret juga memang seragam yang sudah tidak layak pakai lagi. Memang pada waktu itu seragam yang kami kenakan bukanlah seragam sekolah yang biasa kami pakai, kami semua sudah menyepakati bahwa seragam yang dicoret-coret merupakan seragam yang sudah tidak layak pakai dan seragam yang masih layak kami sumbangkan ke panti asuhan. Anak-anak osis dan rohis sudah mengatur itu semua.
Meskipun kami coret coret seragam dan di anggap sebagai aksi fundalisme kaum tidak terpelajar, kami tidak peduli. Setidaknya meskipun kami di anggap bodoh kami tidak sepenuhnya bodoh seperti yang mereka kira. Kami tetap tau batasan diri, yang kami coret adalah apa yang melekat di badan kami, bukan pagar, tembok, atau rambu lalulintas.
Pengumumanpun dibacakaan.
Kami semua lulus, aura kegembiraan sontak pecah. Kami luapkan ekspresi kegembiraan kami di baju kami dan teman kami. Hanya sekedar tanda tangan atau coretan pengingat bahwa kami pernah bersekolah bersama. Kami disibukkan mencari seragam mana yang masih bersih kemudian kami coret, mencari orang yang paling ingin dikenang, orang yang disukai bahkan yang dibenci. Semua larut dalam satu euphoria, semua bahagia meski entah diantara kami pernah ada yang saling membenci. Tapi setelah kegembiraan itu memuncak,  kemudian berubah menjadi suasana haru. Menyadari bahwa kita akan susah untuk bertemu lagi, kami tumpahkan airmata kami bersama. Entah kalian akan kuliah di Jogja, Semarang, Bandung, atau kota manapun, silahkan pergi. Setelah ini kami akan disibukkan dengan urusan masing-masing sehingga takkan sempat untuk mengenang saat-saat seperti ini.


Hari ini (4 tahun setelah itu) aku baru menyadari ternyata salah satu esensi dari coret-coret adalah membuat “prasasti” yang akan kami kenang mungkin untuk seumur hidup kami. Karena setelah 4 tahun berlalu ternyata menemukan meeka yang telah mencoret seragamku itu tidak mudah. Yang dulu tiap hari ketemu tanpa perlu dicari sekarang harus dicari-cari dulu baru ketemu. 

Salam dari temanmu yang merindukanmu